Showing posts with label Diary. Show all posts
Re-Telling Fairy Tales
By : Imedia9.net
Konsep Re-Telling Fairy Tales atau menceritakan kembali sebuah dongeng/kisah dalam bentuk atau kemasan yang lain sebenarnya bukanlah hal yang baru. Ada banyak alasan kenapa proses penceritaan ulang itu dilakukan. Misalnya karena dongeng yang diceritakan pengarang aslinya itu kelewat sadis, atau serem? (Cek cerita asli si kerudung merah yang neneknya dimakan serigala) Atau karena cerita aslinya malah bikin sedih nggak ketulungan dan bikin anak-anak yang baca malah nangis galau? (Cek cerita asli putri duyung yang akhirnya mati jadi buih dilautan) Atau karena ada masukan dari pihak-pihak tertentu yang ingin membawa dongeng tersebut ke sebuah media lain yang lebih wah, mewah, meriah dan bikin para investor bilang: wow!
Nggak perduli dengan reaksi buruk, caci maki, atau kritik pedas para kritikus, faktanya konsep ini terus dilakukan pelaku industri kreatif. Selain menggiurkan secara finansial, konsep ini juga secara tidak langsung telah memancing rasa ingin tahu sebagian pihak untuk mengetahui kisah aslinya, sebelum di re-tell. So, everybody is happy, I think. Well, except for the criticus.
Anyway, kalau gue pikir-pikir Kancil Saga sendiri sebenarnya merupakan sebuah produk Re-Telling Fairy Tales. Bener nggak? Bukankah selama ini orang-orang kalau denger nama Kancil pasti yang kepikiran adalah Pencuri Ketimun? Kenapa mereka nggak pernah berpikir sesuatu yang lain? Kenapa nggak Pencuri Tomat kek, Pencuri Jagung kek, atau Pencuri Stroberi kek apa gitu. Nggak. Setiap kali orang-orang denger kancil, otak mereka akan otomatis menyampaikan dua kata: Pencuri Ketimun. Thats it. Thats the end of story.
Itulah alasan kenapa gue bikin project ini. Kenapa gue (yang udah ditolak banyak penerbit) tetep ngotot pengin bikin Kancil Saga. Karena gue yakin, kisah si Kancil ini layak banget buat di re-tell. Layak banget buat dapat nafas baru yang lebih segar, dan dikemas dengan lebih wah, mewah dan meriah sampai bikin para pembaca bilang: wow! (bisa wow keren banget, atau wow ancur banget. Nggak apa-apalah, yang penting ada wow-nya)
Beberapa bulan terakhir ini ada banyak banget film-film amrik sono yang ngere-tell cerita-cerita anak-anak jaman dulu. Sebagian dikemas dengan keren, sebagian lagi, ya so-so aja. Di bawah ini, gue copas beberapa poster film yang gue suka. Bukan cuma suka ceritanya, sutradaranya, dan sebagainya sih, tapi gua juga suka konsep soal sihir, dialog-dialognya yang lucu (meski bagi sebagian orang katanya garing), dan terutama adegan perangnya yang fantasy banget.
Yang pertama adalah Alice in Wonderland. Soal ini mah udah jelas banget kenapa gue suka. Tim Burton gitu loh! My fave banget.
Selanjutnya adalah Snow White and Huntsman. Cerita dan adegan tempurnya bagus, at least kalau dibandingin sama Mirror-Mirror - yang sama-sama re-tell dari cerita Snow White.
Next adalah Hansel & Gretel: Witch Hunter. Kecuali adegan darahnya yang brutal, gue suka semuanya. Adegan tempurnya 'sederhana' dan keren. Jarang-jarang kan ngeliat penyihir baku hantam?
Yang terakhir adalah Jack The Giant Slayer. Kalau untuk yang ini, gue two thumb up sama CGI-nya. Ini keren banget. Tekstur para raksasa begitu detil dan menjijikan. Adegan fave-gue adalah pada saat salah satu raksasa ngupil, wkwkwkw. Unforgetable scene!
Selain mereka, tentunya masih ada banyak lagi produk-produk Re-Telling Fairy Tales yang lain. Para suhu fairy tales, mulai dari Grimm dan Hans Andersen pasti ngakak di alam sana ngeliat bagaimana dongeng buatan mereka dibolak-balik nggak jelas gitu. Gue sendiri sih berharap, suatu hari nanti Kancil Saga akan berada di posisi mereka. Menjadi salah satu produk Re-Telling Fairy Tales yang super duper terkenal di seluruh penjuru Indonesia dan bisa menghibur para pembaca cilik, err... nggak cilik-cilik juga sih, soale target Kancil itu young adult reader (13 - 21 tahun). Dan buat yang nggak merasa terhibur ya nggak apa-apa. Ke laut aja lo sana, hehehe.
Nggak perduli dengan reaksi buruk, caci maki, atau kritik pedas para kritikus, faktanya konsep ini terus dilakukan pelaku industri kreatif. Selain menggiurkan secara finansial, konsep ini juga secara tidak langsung telah memancing rasa ingin tahu sebagian pihak untuk mengetahui kisah aslinya, sebelum di re-tell. So, everybody is happy, I think. Well, except for the criticus.
Anyway, kalau gue pikir-pikir Kancil Saga sendiri sebenarnya merupakan sebuah produk Re-Telling Fairy Tales. Bener nggak? Bukankah selama ini orang-orang kalau denger nama Kancil pasti yang kepikiran adalah Pencuri Ketimun? Kenapa mereka nggak pernah berpikir sesuatu yang lain? Kenapa nggak Pencuri Tomat kek, Pencuri Jagung kek, atau Pencuri Stroberi kek apa gitu. Nggak. Setiap kali orang-orang denger kancil, otak mereka akan otomatis menyampaikan dua kata: Pencuri Ketimun. Thats it. Thats the end of story.
Itulah alasan kenapa gue bikin project ini. Kenapa gue (yang udah ditolak banyak penerbit) tetep ngotot pengin bikin Kancil Saga. Karena gue yakin, kisah si Kancil ini layak banget buat di re-tell. Layak banget buat dapat nafas baru yang lebih segar, dan dikemas dengan lebih wah, mewah dan meriah sampai bikin para pembaca bilang: wow! (bisa wow keren banget, atau wow ancur banget. Nggak apa-apalah, yang penting ada wow-nya)
Beberapa bulan terakhir ini ada banyak banget film-film amrik sono yang ngere-tell cerita-cerita anak-anak jaman dulu. Sebagian dikemas dengan keren, sebagian lagi, ya so-so aja. Di bawah ini, gue copas beberapa poster film yang gue suka. Bukan cuma suka ceritanya, sutradaranya, dan sebagainya sih, tapi gua juga suka konsep soal sihir, dialog-dialognya yang lucu (meski bagi sebagian orang katanya garing), dan terutama adegan perangnya yang fantasy banget.
Yang pertama adalah Alice in Wonderland. Soal ini mah udah jelas banget kenapa gue suka. Tim Burton gitu loh! My fave banget.
Selanjutnya adalah Snow White and Huntsman. Cerita dan adegan tempurnya bagus, at least kalau dibandingin sama Mirror-Mirror - yang sama-sama re-tell dari cerita Snow White.
Next adalah Hansel & Gretel: Witch Hunter. Kecuali adegan darahnya yang brutal, gue suka semuanya. Adegan tempurnya 'sederhana' dan keren. Jarang-jarang kan ngeliat penyihir baku hantam?
Yang terakhir adalah Jack The Giant Slayer. Kalau untuk yang ini, gue two thumb up sama CGI-nya. Ini keren banget. Tekstur para raksasa begitu detil dan menjijikan. Adegan fave-gue adalah pada saat salah satu raksasa ngupil, wkwkwkw. Unforgetable scene!
Selain mereka, tentunya masih ada banyak lagi produk-produk Re-Telling Fairy Tales yang lain. Para suhu fairy tales, mulai dari Grimm dan Hans Andersen pasti ngakak di alam sana ngeliat bagaimana dongeng buatan mereka dibolak-balik nggak jelas gitu. Gue sendiri sih berharap, suatu hari nanti Kancil Saga akan berada di posisi mereka. Menjadi salah satu produk Re-Telling Fairy Tales yang super duper terkenal di seluruh penjuru Indonesia dan bisa menghibur para pembaca cilik, err... nggak cilik-cilik juga sih, soale target Kancil itu young adult reader (13 - 21 tahun). Dan buat yang nggak merasa terhibur ya nggak apa-apa. Ke laut aja lo sana, hehehe.
Tag :
Diary,
Kancil Saga Update
By : Imedia9.net
Oke. Saya tahu mungkin ini kedengerannya akan sangat mengecewakan kepada para penggemar saya (ehm! hehehe), yang sudah dengan sangat setia menantikan akan seperti apa sih jadinya cerita si Kancil versi Saga ini. Dengan berat hati harus saya sampaikan jika anda semua harus bersabar lagi karena untuk ketiga kalinya, konsep naskah Kancil Saga diubah! Yeey! Ucapan terima kasih dilayangkan kepada R.D Villam, senior sekaligus mentor saya, yang telah memberikan pandangannya terhadap konsep naskah tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada satu kata-kata bijak: "Lebih baik terlambat dalam mematangkan rencana, daripada tergesa-gesa hanya untuk mengulanginya lagi."
Dalam postingan ini, sekaligus untuk memperingati hampir-setahunnya proyek Kancil Saga, maka saya akan coba membahas transformasi proyek ini sejak dirintis awal Juli tahun 2012 yang lalu. Mangga take a look!
1. Konsep Parody Harry Potter
Sejak pertama kali dirintis, proyek Kancil Saga dimaksudkan untuk menghapus image buruk yang sudah terlanjur melekat pada diri si Kancil. Rada sulit melakukannya karena cap Si Pencuri Ketimun itu sudah kadung melekat pada sosok si Kancil. Cara terbaik untuk mengeliminasi hal itu adalah dengan "menumpangkan" nama si Kancil pada sosok lain yang lebih terkenal. Yang kepikiran waktu itu adalah Harry Potter. Kenapa herpot? Karena gue emang suka sama herpot. Kenapa? Masalah buat lo? Kiky si Kancil versi awal gue gambar sendiri sampe berdarah-darah. Ini dia hasilnya:
Tambahan: Oh ya, gue lupa. Kancil Saga sekarang udah punya soundtrack loh! Buat yang belum denger, ayo buruan di klik: https://soundcloud.com/roedavan/kancil-saga-kiky-si-kancil
Dalam postingan ini, sekaligus untuk memperingati hampir-setahunnya proyek Kancil Saga, maka saya akan coba membahas transformasi proyek ini sejak dirintis awal Juli tahun 2012 yang lalu. Mangga take a look!
1. Konsep Parody Harry Potter
Sejak pertama kali dirintis, proyek Kancil Saga dimaksudkan untuk menghapus image buruk yang sudah terlanjur melekat pada diri si Kancil. Rada sulit melakukannya karena cap Si Pencuri Ketimun itu sudah kadung melekat pada sosok si Kancil. Cara terbaik untuk mengeliminasi hal itu adalah dengan "menumpangkan" nama si Kancil pada sosok lain yang lebih terkenal. Yang kepikiran waktu itu adalah Harry Potter. Kenapa herpot? Karena gue emang suka sama herpot. Kenapa? Masalah buat lo? Kiky si Kancil versi awal gue gambar sendiri sampe berdarah-darah. Ini dia hasilnya:
Ya, gue tahu. Gambarnya memang jelek. Udah mah nyontek gambar punya orang, jelek lagi! Emang dasar nggak ada bakat gambar gua! Tapi yang paling penting adalah, bekas luka di keningnya/ Aha! Bekas luka itulah yang pengin gue pake untuk mengubah image si Kancil biar ga lagi identik dengan si pencuri ketimun melainkan sebagai Si Kancil Sang Pembantai... eh eta mah si Batosai atuh. Maksudnya, si Kancil Yang Bertahan Hidup.
Menyadari kalau gambar gue jelek, gue pun coba cari ilustrator. Ucapan terima kasih disampaikan untuk bang Yohan Power - salah satu ilustrator Vandaria Saga yang telah memperkenalkan gue dengan Okky Alpucat Ariani. Dialah yang menggambar ulang Kiky si kancil menjadi seperti ini (dalam versi asli dan versi yang udah gue warnain ulang):
Bekas luka yang fenomenal itu menuai protes, serta caci maki dari banyak pihak. Sebuah protes yang memang saya tunggu. Karena ada misi tersembunyi di balik bekas luka legendaris itu. Akhirnya dari 15 naskah yang saya kirim ke berbagai penerbit, hanya 2 penerbita saja yang tertarik dengan konsep kancil yang baru ini. Yaitu penerbit BA dan KPG. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk berpartner dengan tim KPG dan mengubah wujud Kiky Si Kancil (sementara) menjadi seperti ini:
Bekas luka karena cakaran harimau yang memang menjadi tujuan awal saya sejak naskah ini pertama kali dibuat. Pada bulan November 2012, naskah Kiky Si Kancil pun memulai babak baru.
2. Konsep Trilogi & Dunia Sihir
Alih-alih menggunakan konsep 7 serial buku, editor saya yang baik, mbak Ratna mengusulkan untuk membuat trilogi saja. Biar terlihat keren, mantap dan luar biasa mengguncang dunia persilatan. Untuk melakukan itu, langkah pertama yang harus saya lakukan adalah membuat dunia. Benar sekali sodara-sodara. Mengekor senior saya yang lain, mas Ami Radiya yang sudah melaju kencang dengan Vandaria Saga-nya, saya mencoba membuat konsep shared-universe yang sama. Namun karena keterbatasan personil (just me, my keyboard and mouse) - gue pun terpaksa menggunakan konsep shared-paralel-universe. Sebuah konsep penggunaan dunia secara paralel dengan nama tempat yang sama, tapi dengan sejarah dan detil yang berbeda. Dunia fantasy gue itu gue namakan Dremina. Ini adalah bentuk awalnya:
Membuat sebuah trilogi high-fantasy bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi jika harus melakukan perawatan yang begitu mendetil pada seluruh wilayah. Lagian gua juga bukan seorang novelis yang jago-jago banget. Oleh karena itu, gue mencoba menyederhanakan pembahasan dan seting novel dengan hanya berkutat pada satu wilayah tertentu saja, yaitu negeri Dongeon. Ini adalah peta kondisi awalnya:
Sampai tahap ini, sebenarnya semua sudah berjalan dengan lancar. Hanya saja poin minus justru berada pada plot dan alur penceritaannya sendiri. Gue bener-bener kelabakan dalam menulis naskah Kancil Saga itu dan sempat frustasi karena nggak selesai-selesai. Dan ketika akhirnya beres, gue malah jadi merasa ada sesuatu yang salah pada naskah itu, tapi gue nggak tahu apa. Dan saat itulah saya meminta bantuan mas Villam, yang juga di acc langsung oleh mbak Ratna selakuk editor.
3. Konsep Laskar Mustafa
Dunia Dremina menjadi semakin matang seiring dengan berjalannya waktu. Dengan menggunakan software Gimp versi 2, gue dengan bersusah payah dan berdarah-darah akhirnya berhasil membuat ulang situasi dan kondisi dunia Dremina. Satu hal yang tentunya bakalan mempermudah gue juga dalam menulis cerita nantinya. Here you go!
Gue juga berhasil menggambar ulang negeri utama tempat terjadinya kisah Kancil Saga ini yaitu Dongeon. Sebuah negeri yang berasal dari plesetan kata Dongeng.
Dalam konsep Kancil Saga yang ketiga, penceritaan akan menitikberatkan pada peran Laskar Mustafa sebagai salah satu laskar binatang di Dongeon. Dalam konsep sebelumnya, gue bener-bener keteteran waktu harus membuat deskripsi soal Goa Raungan Suci yang menjadi markas Laskar Mustafa. Tapi sekarang lain ceritanya (mudah-mudahan sih) karena gue pun telah berhasil membuat peta Hutan Buas dan Goa Raungan Suci.
Sebenernya masih banyak hal lain yang pengin gue bahas di sini. Yaitu masalah Laskar Mustafa sendiri, hukum yang berlaku di antara tiga kerajaan binatang, sampai sistem sihir di Dongeon 9yang juga pernah ditanyain sama salah satu temen kantor gue). Tapi soal itu nanti gue bahas di postingan lain aja kali ya, hehehe. Bye!
Tambahan: Oh ya, gue lupa. Kancil Saga sekarang udah punya soundtrack loh! Buat yang belum denger, ayo buruan di klik: https://soundcloud.com/roedavan/kancil-saga-kiky-si-kancil
Tag :
Diary,
Another Partner: Dee Coffee
By : Imedia9.net
Akhirnya ketemu juga. Setelah kurulang kuruling ke sana kemari kaditu kadieu untuk mencari anak band yang bisa diajak kerja sama untuk membuatkan soundtrack Kancil Saga, akhirnya ketemu juga. Adalah Dee Coffee, sebuah band beraliran Pop Alternative yang dimotori oleh Uki (Vocal), Galih (Bass) dan Teguh (Lead Guitar). Mau mengenal mereka lebih dekat? Berikut adalah beberapa foto Dee Coffee yang berhasil gue colong secara seksama dari mas Galih sang bassis.
Dee Coffee formasi pertama
Dee Coffee formasi kedua
Dee Coffee formasi ketiga
Dee Coffee dan kru
Welcome to the Jungle, brother!
Tag :
Diary,















