Popular Post

Analisa Cerita Si Kancil Pencuri Ketimun

By : Imedia9.net
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan berkat-Nyalah kita semua masih hidup di dunia yang penuh dengan fatamorgana ini. Kedua-dua marilah kita sama-sama berteriak: Aaaaaaargh!! INI SIAPA SIH YANG NGARANG CERITA SI KANCIL SUKA MENCURI KETIMUUN! Bikin napsu aja! Ehm. Maaf, saya sedikit es-mosi. Soalnya si kancil itu tokoh idola saya. Jadi kalau ada yang cerita aneh-aneh soal si kancil langsung saya libas. Ibarat pepatah mengatakan "Lo asyik, gu santai. Lo usik, gua bantai!"

Ada banyak versi tentang cerita si kancil pencuri ketimun. Salah satu yang paling banyak ditemukan di internet adalah versi yang dimulai dengan kalimat ini:


Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.


Sampai sini, kalimatnya ga ada masalah. Malahan cukup bagus karena tidak dimulai dengan kata Pada Suatu hari, pada jaman dahulu kala atau Kriiiiiing! Jam weker berbunyi aku terlambat ke sekolah... dst. Intinya kalimat pembukanya keren. Dilanjutkan dengan kalimat:


Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong!" terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.

Wah, mulai seru nih jalan ceritanya. Terus-terus...

Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran!" teriak Kambing. "Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan!"


Woi, woi, apa-apaan ini? Kok cerita si kancil pencuri ketimun ada kebakarannya segala? Aneh banget. Padahal dulu-dulu waktu diceritain sama bapak saya, ga pernah ada tuh insiden kebakaran gini. Kuat dugaan jika penulis cerita ini telah 'menambahkan' kejadian kebakaran untuk memperkuat plot selanjutnya. Yaitu si kancil lari terbirit-birit dan sampai ke ladang pak Tani.


Oh, rupanya begitu. Baiklah. Ide kebakaran itu pun jadi terasa lumayan. Adegan pun terus berlanjut sampai si kancil tiba di ladang pak tani. Dia terkejut saat melihat ladang pak Tani. Tahu nggak apa yang dia bilang?

"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan." mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!


Saya nggak tahu apa maksud penulis membuat si kancil mengucapkan kalimat itu. Mungkin dia bermaksud untuk mengatakan jika si kancil itu adalah anak yang baik dan selalu bersyukur kepada ke Tuhan atas segala karunianya. Ini pesan yang baik sekali. Namun kalimat selanjutnya:

Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buah-buahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?

WTF!! Ini si kancil sebenernya belajar agama apa sih? Di satu sisi Terima kasih, Tuhan di sisi lain dengan tanpa dosa makan tanaman pak Tani. Tunggu! Untuk kasus ini jangan salahkan si kancil. Salahkan penulisnya! Dia bahkan menulis dengan tegas:  Si Kancil nakal sekali, ya?

Kalo elu mau bikin cerita si kancil bakalan nakal kenapa pake kalimat Terima kasih, Tuhan? Ampun dah! Jadi sebenernya si penulis ini mau bikin tokoh si kancil yang kayak apa sih? Baik? Buruk? Setengah-baik atau setengah-buruk? Ampun dah!

Dan kalimat selanjutnya adalah kalimat yang paling menohok dan menyayat-nyayat hati bagai diiris sebilah katana. Begini kalimatnya:

Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih" kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."

WOI! Kancil nggak suka ketimun, woi! Nyak! Babek! Ade-ade! Om! Tante! Sodare-sodare semue! Itu nyang bilang kancil suka makan ketimun tuh sapaaa? ITU PITNAH!


Yang namanya kancil itu binatang pemalu, dan pendiam. Makanan yang paling disukainya adalah buah-buahan kecil yang berair. Ya, ketimun memang berair. Tapi kancil NGGAK SUKA makan ketimun. Kalau pun tuh kancil kepepet dan mesti makan ketimun, bisa mokat dia! Alias koit! Death! Die! Kucluk-kucluk suddenly get a heart attack!

Sabar. Sabar.

Saya memang suka rada emosi kalau udah baca cerita-cerita si kancil yang kesannya selalu memojokkan binatang lucu, imut dan menggemaskan itu. Nah, lanjut ke analisa berikutnya. 

Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan."Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."

WTF!! Ini logikanya di pake nggak sih??

Kasus:
Saya seorang koruptor kelas kakap. Baru aja merugikan negara dengan menggelapkan dana sebesar 10 trilyun rupiah . Saya minta maaf deh sama rakyat Indonesia. Siapa tahu, dikasih duit 1 trilyun lagi. *DZIG!*


Saya tahu ini cerita buat anak-anak. Tapi mbok ya di pikir baik2 toh mas. Masa anak-anak diajari mencuri terus minta maaf supaya dikasih jatah lagi sih? Ampuuun... ampuuun!

Image si kancil sebagai sosok binatang nakal pencuri ketimun memang sudah sangat terkenal di masyarkat luas. Bukan saja di Indonesia bahkan sampai ke manca negara. Saya juga bahkan pernah menemukan versi kisah si kancil dalam bahasa Inggris. Meski pun begitu, saya tetap optimis, jika image si kancil bisa diubah dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  

Sudah saatnya si kancil tidak lagi dikenal sebagai sosok si pencuri ketimun, tetapi sebagai binatang pahlawan yang siap melindungi teman-temannya. It's time for revolution!


(Rickman Roedavan)


Tag : ,

Animasi 3D: Si Kancil Anak Nakal

By : Imedia9.net
Pada awalnya saya cuma searching blog buat menemukan kisah-kisah si kancil yang sudah pernah dibukukan. Namun saya tersasar ke situsnya binus dan saya menemukan sebuah artikel yang membuat saya tercengang. GILE! Ini ada orang yang mau bikin animasi si kancil versi 3D. Mantap nggak tuh? Langsung aja saya copas isi artikelnya yang sekaligus merupakan jurnal dari seseorang yang bernama Firdianza di sini:

Hampir semua orang mengenal Kancil. Kebanyakan dari kita pasti mengenalnya dari kisah yang sering diceritakan orang tua kita ketika kita masih kecil. Namun, tahu kah Anda bahwa hewan kancil hanya bisa ditemukan di beberapa tempat saja, salah satunya di Indonesia.
Walaupun hewan kancil statusnya sudah hampir punah, ternyata masih banyak anak-anak yang belum tahu seperti apa wujud asli kancil. Mereka mengenal kancil hanya lewat cerita. Kebiasaan orang tua mendongengkan anaknya nampaknya juga sudah mulai luntur. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, munculah ide untuk mengangkat sosok kancil ke dalam film pendek ini. sekaligus untuk kembali memopulerkan sosok si kancil.
Film pendek Si Kancil Anak Nakal ini, dibuka dengan narasi seorang kakek tua yang sedang bercerita kepada sekumpulan anak-anak binatang. Sang kakek bercerita kepada mereka bahwa dahulu hiduplah hewan yang paling cerdas di hutan, yaitu kancil. Namun kancil kini sudah hampir punah karena rusaknya hutan tempat tinggal mereka. Sang kakek lanjut menceritakan bagaimana kecerdikan dan kelicikan kancil dalam memecahkan masalah yang ia hadapi. Hingga pada akhirnya kancil pun mendapatkan ganjaran atas perbuatan buruk yang telah ia lakukan selama ini. Di akhir film, penonton barulah mengetahui bahwa sang kakek yang sedang bercerita adalah si kancil itu sendiri. Kini kancil sudah tua dan hanya bisa menceritakan kisah hidupnya pada anak-anak binatang. Ia berharap dapat memberikan contoh pada anak-anak bahwa semua perbuatan pasti akan ada balasannya dan kisahnya akan selalu diingat selalu.
Setelah ide dasar dan cerita telah didapat, saya mulai mengumpulkan data-data mengenai kancil, seperti kisah fabel kancil, habitat kancil, foto dan video kancil, dan sebagainya. Barulah kemudian dibuat desain karakter dan desain environment-nya. Lalu, dilanjutkan dengan pembuatan storyboard.
Setelah semua konsep desain dan storyboard selesai dikerjakan, baru saya masuk ke tahap modeling dan texturering yang dilanjut kan dengan character setup dan animasi hingga tahap terakhir compositing. Semua proses tersebut memakan waktu sekitar lima minggu.

Dalam proses modeling character, saya menemukan kendala saat pembuatan morph target. Untuk membuat morph target mata kanan menutup, saya tidak dapat mem-mirror morph target mata kiri yang telah saya buat dan meng-assign-nya sebagai morph target mata kanan. Begitupun dengan morph target lainnya yang telah saya buat. Untungnya, saya menemukan free script ’Morphix’ yang memungkinkan saya untuk menggunakan mirror tools dalam pembuatan morph target. Terima kasih kepada Martijn van Herk karena telah membuat script yang sangat berguna untuk saya pada saat itu.

Modeling environtment seperti pohon dan rumput dibuat dengan menggunakan teknik subdiv modeling seperti biasa. Namun, pada beberapa kasus, saya menggunakan plugin pemodelan pohon dari iTooSoftware© untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan cepat.
Kemudian, timbul masalah ketika saya harus membuat scene hutan. Di hutan akan terdapat banyak sekali objek pohon dan rumput. Jika semua model tersebut diletakkan dalam satu scene, akan sangat membebani kerja komputer, sehingga akan memperlambat perkerjaan saya ke depan nantinya. Penggunaan plugin dari iTooSoftware© sangat membantu saya dalam pembuatan hutan ini. Model pepohonan saya dapat di-scatter dalam jumlah banyak tanpa membebani kerja komputer. Awalnya sempat pesimis, proses render setiap frame-nya pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Beberapa detik setelah saya memencet tombol render, senyum kecil mulai terlihat di wajah saya, menggambarkan ekspresi kebahagian akan proses render yang cepat.
Untuk pencahayaan, saya hanya menggunakan sumber cahaya matahari. Bayangan daun yang terlihat di tanah merupakan fake shadow yang dihasilkan dari gambar hitam putih daun-daun dan ranting-ranting yang diproyeksikan oleh lampu standar.

Gimana?  Keren kan? Secara teknologi saya acungin 5 jempol buat yang bersangkutan. Karena memang ini sudah saatnya anak bangsa unjuk gigi. Emangnya yang bisa bikin pelm 3D cuma orang2 seberang doang? Anak bangsa juga bisa berkarya. BRAVO! Cuman.... ya itu. Ceritanya si kancil kok mencuri ketimun sih? Please banget! Buat mas yang sedang ngerjain animasi ini: please read this and this. Mudah-mudah pintu hatimu terketuk (apaan seeeeh??)

Sekali lagi, saya ucapkan Bravo untuk teknik animasinya.

Sumber: http://animation.binus.ac.id/2012/03/28/si-kancil-anak-nakal

Lambung Kancil vs Ketimun

By : Imedia9.net

Kancil ternyata tidak suka makan mentimun, jauh dari yang kita yakini selama ini. Selama ini yang kita yakini, kancil adalah sosok hewan kecil yang cerdik namun nakal. Kancil sangat gemar memakan mentimun, meski harus mencuri sekali pun.
Baik dari dongeng maupun lirik lagu karangan Ibu Sud (?), kancil atau disebut juga pelanduk sering di identikkan dengan penggemar mentimun. Demi makanan kesukaannya ini, kancil tidak segan mencuri. Dan ternyata anggapan itu salah.
Kancil ternyata tidak menyukai mentimun
Kancil ternyata tidak menyukai mentimun
Kancil yang dalam bahasa latin disebut Tragulus javanicus, merupakan hewan ruminansia (pemamah biak) terkecil diantara binatang ruminansia lainnya. Hewan ruminansia merupakan binatang yang lambungnya terdiri lebih dari satu ruangan bahkan umumnya terdiri empat ruangan seperti sapi, kambing, rusa, dan domba.
Namun meskipun hewan pemamah biak (ruminansia) lambung kancil lebih sederhana dan hanya memiliki 3 ruangan. Oleh karena itu, kancil disebut sebagai hewan ruminansia primitif.
Kondisi lambung yang hanya terdiri atas tiga ruangan ini membuat kancil relatif selektif dalam memilih makanannya. Jika hewan ruminansia lainnya menyukai rumput, kancil lebih memilih makanan yang mudah dicerna.
Di hutan, kancil memakan pucuk daun (terutama yang berair), buah-buahan yang jatuh dari pohon, rumput dan akar. Sedangkan di kebun binatang maupun kandang peliharaan, kancil biasanya diberikan makanan seperti irisan kangkung, kacang panjang, wortel, bengkoang, ubi, selada, jagung muda, terong serta buah-buahan. Kancil menyukai buah-buahan yang lunak dan berbau harum. Buah kesukaan binatang ini antara lain pisang, apel, dan nangka.
Dari berbagai pengamatan, saat kancil (Tragulus javanicus) disediakan beraneka jenis buah dan daun, termasuk mentimun diantaranya, kancil akan memilih berbagai buah yang lunak dan harum untuk dimakannya. Dan ternyata, kancil tidak memilih mentimun sama sekali selagi masih ada jenis makanan lainnya.
Djalal Rosyidi, Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Ternak Ilmu Pertanian Bogor (IPB), pernah melakukan penelitian tentang kehidupan kancil. Penelitian ini dilakukan sejak Desember 2004 hingga Juli 2005 melibatkan 23 ekor kancil yang terdiri dari 16 ekor kancil dewasa yang dipelihara dikandang, 2 kancil liar dan 5 kancil anak.
Salah satu yang diteliti adalah pola makan binatang bernama latin Tragulus javanicus ini. Pada saat makan, kancil selalu melakukan pemilihan dengan menggunakan alat penciumannya. Dalam beberapa hari diberikan menu makanan yang terdiri ubi, kondang, kangkung, terong, wortel, dan timun. Hasilnya, Dari pakan yang diberikan selama proses penelitian, urutan jenis pakan yang disukai kancil adalah ubi, kondang, kangkung, terong, wortel, dan mentimun.
Mentimun, menurut hasil penelitian Djalal Rosyidi, menjadi makanan yang jarang disukai oleh kancil. Selain relatif lebih keras dari menu makanan lainnya, mentimun mengeluarkan lendir dan bau yang kurang disukai oleh kancil.
Satu lagi, kancil ternyata merupakan binatang yang pemalu. Jauh dari kesan yang ditimbulkan dari dongeng-dongeng di mana keberanian dan kecerdikan kancil mampu memperdaya berbagai satwa lain termasuk harimau sekali pun.
Jika dalam berbagai fabel (cerita binatang) kancil digambarkan cerdik mungkin benar. Karena ternyata kancil mampu memilih makanan yang sesuai dengan lambungnya yang sederhana dibandingkan hewan ruminansia lainnya. Tetapi kalau dikatakan bahwa kancil nakal dan suka mencuri mentimun, tunggu dulu!. Kancil ternyata tidak suka makan mentimun, untuk apa ia mencurinya?.
So, jangan terlalu percaya pada dongeng.
Klasifikasi ilmiah: Kingdom: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Tragulidae; Genus : Tragulus; Spesies : Tragulus javanicus
Sumber:
Referensi:
  • www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0511/18/nas8.htm
  • alamendah.wordpress.com/2010/02/11/pelanduk-kancil-populer-tapi-data-deficient
  • id.wikipedia.org/wiki/Hewan_pemamah_biak
  • gambar: commons.wikimedia.org (wikipedia)
Tag : ,

Si Kancil & Seruling Ajaib

By : Imedia9.net

Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu. “Ternyata enak juga jalan-jalan dihutan bambu, sejuk dan begitu damai,” kata kancil dalam hati. Keasyikan berjalan membuat ia lupa jalan keluar, lalu ia mencoba jalan pintas dengan menerobos pohon-pohon bambu. Tapi yang terjadi si kancil malah terjepit diantara batang pohon bambu. “Tolong! Tolong!” teriak kancil. Ia meronta-ronta, tapi semakin ia meronta semakin kuat terjepit. Ia hanya berharap mudah-mudahan ada binatang lain yang menolongnya.
Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia berkhayal bisa bernyanyi seperti burung. “Andai aku bisa bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang mau mengajari aku bernyanyi ya ?”, tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit-derit. Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. “Suara apa ya itu ?” kata harimau.
“Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya suaranya datang dari arah hutan bambu, lebih baik aku selidiki saja,” ujar si harimau. Suara semakin jelas ketika harimau sampai di hutan bambu. Ia mendapati ternyata seekor kancil sedang terjepit diantara pohon-pohon bambu. “Wah aku beruntung sekali hari ini, tanpa susah payah hidangan lezat sudah tersedia”, ujar harimau kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat tubuh kancil yang gemuk. Kancil sangat ketakutan.”Apa yang harus kulakukan agar bisa lolos dengan selamat ?”, pikir si kancil.
“Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan mengenyangkanmu.” “Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini,” ujar si harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet….kriet… “Suara apa itu ?”, Tanya Harimau penasaran. “Itu suara seruling ajaibku,” jawab kancil dengan cepat. Otaknya yang cerdik telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri. “Aku bersedia mengajarimu asalkan engkau tidak memangsaku, bagaimana ?” Tanya si kancil. Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia memang ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia berpikir meniup seruling tidak kalah hebat dengan bernyanyi. Tangan si kancil pura-pura asyik memainkan seruling seiring dengan hembusan angin. Sementara harimau memperhatikan dengan serius. “Koq lagunya hanya seperti itu ?”, Tanya harimau. “ini baru nada dasar”, jawab kancil.
“Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu batang bambu ini dari tubuhku”, kata si kancil. Harimau melakukan apa yang dikatakan kancil hingga akhirnya kancil terbebas dari jepitan pohon bambu. “Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan lidahmu pada batang bambu ini. Lalu tiuplah pelan-pelan ,” Kancil menerangkan dengan serius. “Jangan heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak ngadat suaranya bagus lho.” “Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia, mana ada seruling ajaib,” kata kancil dalam hati. “Harimau yang telah terjepit diantara batang bamboo tidak menyadari bahwa ia telah ditipu si kancil. “Kau mau pergi kemana, Cil ?”, Tanya harimau. “Aku mau minum dulu, tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup seuling,” jawab si kancil. “Masa aku harus belajar sendiri ?”, tanya harimau lagi. “Aku pergi tidak lama, nanti waktu aku kembali, kau harus sudah bisa meniupnya ya, jawab si kancil sambil pergi meninggalkan harimau.
Setelah si kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang. Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit. “Hore aku bisa !”, seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup, lidah harimau menjadi terjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan dan segera menarik lidahnya dari jepitan batang bambu. “Wah ternyata aku telah ditipu lagi oleh si kancil, betapa bodohnya aku ini !, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bambu yang bergesekan. “Grr, benar-benar keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil”, kata harimau.
Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus kembali. Kriet..kriet..krietmembuat batang-batang bambu saling bergesekan dan berderit-derit. Hal ini membuat amarah harimau sedikit reda. Ia jadi mengantuk dan akhirnya tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dapat meniup seruling asli ! Membuat para binatang menari dan menyanyi.

(Sumber: Elexmedia)
Tag : ,

Si Kancil & Bende Wasiat

By : Imedia9.net

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. “Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah,” kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. “Benar-benar keterlaluan si harimau !” kata Kancil menahan marah. “Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam, “Hmm, aku ada ide,” kata si kancil tiba-tiba. “Tapi kau harus menolongku,” lanjut si kancil. “Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting,” kata kancil pada kelinci. “Tugas penting apa, Cil?” tanya kelinci heran. ” Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana.” “Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?”, kata kelinci. “Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik”. “Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi.”
Si kelinci pun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. “Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. “Itu dia si Kancil!” kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. “Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi,” kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.
“Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?” Tanya harimau sambil marah. “Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting”. “Tugas penting apa?”.

Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. “Aku harus menjaga bende wasiat itu.” Bende wasiat apa sih itu?” Tanya harimau heran. “Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran. “Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu.” “Jangan, jangan,” kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, “Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?”, kata si kancil.
Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. “Tolong! Tolong!” teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. “Grr, awas kau Kancil!” teriak Harimau menahan marah. “Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?”. Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.
“Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah,” kata kancil. “Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?”. “Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini,” kata kelinci penuh harap.”

(Sumber: Elexmedia)
Tag : ,

Si Kancil Kena Batunya

By : Imedia9.net

Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan dihutan sambil membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata,”Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku”. Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. “Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya”.
Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,”Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?”. Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.
“Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?”. Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. “Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam”. Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,”Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat”. Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.
Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. “Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil,” kata siput.
Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput.

Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,”Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini.” Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.

Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,”Kancil memang tiada duanya.” Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. “Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?”. Ejek siput. “Tidak mungkin !”, “Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang”, seru si kancil.
“Sudahlah akui saja kekalahanmu,”ujar siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya. “Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka”, ujar siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.

(Sumber: Elexmedia)
Tag : ,

- Copyright © Kiky Si Kancil - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -