First Meet: Gunung Batu Enterprise
By : Imedia9.netNyasar! Itulah kesan pertama yang gue dapatkan saat berusaha mengunjungi markas besar Gunung Batu Enterprise, sebuah studio animasi terkemuka di Bandung. Alamat di webnya mah jelas di Jln Sukanegara 62, tapi kang Sugeng ngasih alamat no 54. Ini teh kumaha sih? Saha anu salah? Akhirnya setelah kucluk-kucluk dan kurulang-kuruling ga jelas, saya pun berhasil sampai di markas pertama yang berada di alamat 54. Loh? Markas pertama? Iya bro, ternyata GBE itu punya dua markas yang lokasinya deketan. Sedeket kami berdua, hehehe.
Yang sebelah kanan gue itu namanya Sugeng, tapi lebih terkenal dengan nama Mang Ugeng. Sang animator 3D legendaris yang sekaligus merupakan pendiri Gunung Batu Enterprise. Mang Ugeng ini juga merupakan salah satu pelopor penggunaan Blender, software 3D open source, untuk digunakan dalam pembuatan film-film atau proyek 3D.
Gue nyampe markas GBE kurang lebih jam 9an. Dan sesuai dugaan gue semula (biar pun gue bukan seorang peramal, hehehe) poster pertama yang langsung nongol di depan ruang tunggu adalah poster ini:
Gue juga tadi sempet ngintip whiteboard dan ngeliat jadual penyelesaian serial Menggapai Bintang 2 yang ternyata dikerjakan oleh beberapa grup. Masing-masing grup sendiri terdiri dari beberapa animator muda berbakat yang jago-jagooo! Gue juga sempet jeprat-jepret nih beberapa kegiatan para animator di TKP yang terbagi ke dalam beberapa grup. Cekidot!
Kelihatan nggak? Teksturnya detiiiil banget. So realistik dan beda banget dengan apa yang gue lihat di serial Menggapai Langit. Selidik punya selidik, serial itu "hanyalah" salah satu dari sekian banyak proyek yang sedang dikerjakan oleh GBE. Dan seperti penuturan kang Dani , "Waktu pembuatan, biaya serta kualitas itu berbanding lurus!"
Sumpah dah gue pengin ngakak pas lihat gambar ini. Gambar jembatan bambu reyot versi 3D yang asliiii reyot banget. Keren nih yang bikinnya.
Gue juga sempat di ajak ngintip ke ruangannya mas Dani sang Ilusionist eh salah, sang ilustrator. Dan sempat ngejepret beberapa hasil gambarnya yang unyu-unyu!
Sengaja gue potret rada jauh karena ingin "merahasiakan" sebuah proyek besar yang kini sedang digarap oleh GBE. Sebuah proyek yang bikin gue terbelalak dan berkata: "Euleuh... euleuh... Bandung pisan ieu mah euy!" Yap! Proyek yang sedang dibuat oleh GBE memang berkaitan erat dengan seniman legendaris kelahiran Bandung yang akan dibuatkan dalam versi 3Dnya. Siapakah dia? Hei... hei... siapa dia? Rahasia ah! Wkwkwkwkw
Duduk di kursinya kang Dani berasa jadi seorang ilustrator handal euy! Jadi penasaran, kira-kira book trailer Kancil Saga yang nanti bakal dibuat bakal kayak apa ya? Bocorannya sih akan dibuat dalam bentuk se-unyu mungkin. Soalnya kancil kan binatang yang lucu. Jadi bentuk 3Dnya juga pasti unyu. *terus gue mesti ngompol sampai bilang wow gitu?*
Yang jelas, kunjungan pertama gue ke studio GBE ini bener-bener Ruarrr biasa! Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat kang Sugeng, kang Andri, kang Dani dan seluruh tim GBE yang bersedia untuk ngebantuin Kancil Saga.
Semoga kita bisa sukses bersama! Maju terus dunia Animasi Indonesia! Aamiin.
Yang sebelah kanan gue itu namanya Sugeng, tapi lebih terkenal dengan nama Mang Ugeng. Sang animator 3D legendaris yang sekaligus merupakan pendiri Gunung Batu Enterprise. Mang Ugeng ini juga merupakan salah satu pelopor penggunaan Blender, software 3D open source, untuk digunakan dalam pembuatan film-film atau proyek 3D.
Gue nyampe markas GBE kurang lebih jam 9an. Dan sesuai dugaan gue semula (biar pun gue bukan seorang peramal, hehehe) poster pertama yang langsung nongol di depan ruang tunggu adalah poster ini:
Gue juga tadi sempet ngintip whiteboard dan ngeliat jadual penyelesaian serial Menggapai Bintang 2 yang ternyata dikerjakan oleh beberapa grup. Masing-masing grup sendiri terdiri dari beberapa animator muda berbakat yang jago-jagooo! Gue juga sempet jeprat-jepret nih beberapa kegiatan para animator di TKP yang terbagi ke dalam beberapa grup. Cekidot!
Gue juga sempat di ajak ngintip ke ruangannya mas Dani sang Ilusionist eh salah, sang ilustrator. Dan sempat ngejepret beberapa hasil gambarnya yang unyu-unyu!
Duduk di kursinya kang Dani berasa jadi seorang ilustrator handal euy! Jadi penasaran, kira-kira book trailer Kancil Saga yang nanti bakal dibuat bakal kayak apa ya? Bocorannya sih akan dibuat dalam bentuk se-unyu mungkin. Soalnya kancil kan binatang yang lucu. Jadi bentuk 3Dnya juga pasti unyu. *terus gue mesti ngompol sampai bilang wow gitu?*
Yang jelas, kunjungan pertama gue ke studio GBE ini bener-bener Ruarrr biasa! Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat kang Sugeng, kang Andri, kang Dani dan seluruh tim GBE yang bersedia untuk ngebantuin Kancil Saga.
Semoga kita bisa sukses bersama! Maju terus dunia Animasi Indonesia! Aamiin.
Tag :
Diary,
Kiky Si Kancil The Series?
By : Imedia9.net
Kemaren gue baru aja bertemu dengan kang Andri dan kang Sugeng dari Gunung Batu Enterprise (GBE) untuk membahas kemungkinan dibuatnya Kancil Saga dalam bentuk film animasi. Sebuah kejutan yang menyenangkan karena ternyata GBE, studionya kang Sugeng itu ternyata merupakan studio animasi yang juga menggarap serial Menggapai Langit. Rasanya gue pernah membahas soal animasi dengan tokoh utama anak-anak smp ini. Baca deh: http://blogtutorial-blender.blogspot.com/2012/11/serial-animasi-pendidikan.html
Menurut penuturan kang Sugeng kemarin, jumlah studio animasi di Indonesia memang baru sedikit. Baru sekitar 40an studio itu pun dengan jumlah karyawan yang masih bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit sekali yang sudah 'mapan' dengan memiliki jumlah animator yang memadai. Mapan dalam tanda kutip memang, karena industri animasi di Indonesia ternyata masih dianggap sebagai bisnis yang high-risk oleh para investor. Berbanding terbalik dengan industri sinetroniah yang tumbuh subur, makmur, sejahtera tralala.
Gunung Batu Enterprise sendiri tidak murni bergerak di animasi. Perusahaan ini harus melebarkan sayapnya ke berbagai bidang agar tetap dapat bertahan hidup di tengah pesimisnya dunia bisnis Indonesia terutama di bidang film animasi. Berikut curiclum vitae dari Gunung Batu Enterprise:
Sejarah GBE Studio
Nama "Gunung Batu" diambil dari nama tempat lahirnya GBE Studio pada tahun 2007. yaitu sebuah daerah bernama gunung batu yang berada di barat kota Bandung. Sedangkan "Enterprise" adalah untuk menggambarkan keahlian dan kemampuan kami yang meliputi banyak bidang. Seperti: Animasi, film making, Visual FX, Multimedia interaktif, Game, Simulator, web technology, E-learning, dll.
Misi dan Visi GBE Studio
Misi: menciptakan sebuah karya yang bisa membanggakan semua orang.
Visi: Menjadikan tempat kami sebagai Rumah Produksi atau Studio Besar yang menghasilkan karya menarik, menghibur dan mengedukasi.
Produk
2007: Citarum (Sosialisi 3d Animation), Global Warming (Sosialisi 3d Animation), Bahasa Inggris (Media Pembelajaran)
2010: Flexinema (Video Presentation), CBT Tambang Batubara(Content Elearning), Elearning FFI (Elearning System Moodle)
2011: Kun Fa Yakun (Film Animasi 4D ), Menggapai Bintang 2011 (Serial Animation), Pijar Nusantara (Media Pembelajaran)
2012: BPPD Jawabarat (Film Animasi + Multimedia Interaktif), Taro Promo (TVC), Bebelac (TVC), Menggapai Bintang 2012 (Serial Animation), Alif& Momo (Visual FX + Compositing), TNP2K (Film Dokumenter), Palagan Ambarawa(3D Animation)
Website
http://gunungbatu.co.id/
Pertemuan kemarin baru merupakan awal. Gue berharap itu merupakan awal yang baik. Langkah selanjutnya adalah mencari investor untuk mendanai proyek Kancil Saga The Animation. Tentu saja membuat sebuah film layar lebar animasi 3D mungkin menjadi cita-cita yang terlalu tinggi (kecuali yang danain Pixar, hehehe). Jadi yang paling mungkin bisa dilakukan adalah membuat serial Kiky Si Kancil.
Kenapa eh kenapa kudu the series? Karena eh karena menurut hukum jual-beli pasar di Indonesia dan pertimbangan para investor, sebuah film seri akan jauh lebih menguntungkan daripada film layar lebar. Resiko bisa diturunkan, manisnya hidup kita yang tentukan. Loh? Kok malah jadi iklan? Anyway, looking forward for Kancil Saga: Kiky Si Kancil The Series. Wish me luck okay? Semoga bisa dapat investor yang baik. Aamiin.
Menurut penuturan kang Sugeng kemarin, jumlah studio animasi di Indonesia memang baru sedikit. Baru sekitar 40an studio itu pun dengan jumlah karyawan yang masih bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit sekali yang sudah 'mapan' dengan memiliki jumlah animator yang memadai. Mapan dalam tanda kutip memang, karena industri animasi di Indonesia ternyata masih dianggap sebagai bisnis yang high-risk oleh para investor. Berbanding terbalik dengan industri sinetroniah yang tumbuh subur, makmur, sejahtera tralala.
Gunung Batu Enterprise sendiri tidak murni bergerak di animasi. Perusahaan ini harus melebarkan sayapnya ke berbagai bidang agar tetap dapat bertahan hidup di tengah pesimisnya dunia bisnis Indonesia terutama di bidang film animasi. Berikut curiclum vitae dari Gunung Batu Enterprise:
Sejarah GBE Studio
Nama "Gunung Batu" diambil dari nama tempat lahirnya GBE Studio pada tahun 2007. yaitu sebuah daerah bernama gunung batu yang berada di barat kota Bandung. Sedangkan "Enterprise" adalah untuk menggambarkan keahlian dan kemampuan kami yang meliputi banyak bidang. Seperti: Animasi, film making, Visual FX, Multimedia interaktif, Game, Simulator, web technology, E-learning, dll.
Misi dan Visi GBE Studio
Misi: menciptakan sebuah karya yang bisa membanggakan semua orang.
Visi: Menjadikan tempat kami sebagai Rumah Produksi atau Studio Besar yang menghasilkan karya menarik, menghibur dan mengedukasi.
Produk
2007: Citarum (Sosialisi 3d Animation), Global Warming (Sosialisi 3d Animation), Bahasa Inggris (Media Pembelajaran)
2010: Flexinema (Video Presentation), CBT Tambang Batubara(Content Elearning), Elearning FFI (Elearning System Moodle)
2011: Kun Fa Yakun (Film Animasi 4D ), Menggapai Bintang 2011 (Serial Animation), Pijar Nusantara (Media Pembelajaran)
2012: BPPD Jawabarat (Film Animasi + Multimedia Interaktif), Taro Promo (TVC), Bebelac (TVC), Menggapai Bintang 2012 (Serial Animation), Alif& Momo (Visual FX + Compositing), TNP2K (Film Dokumenter), Palagan Ambarawa(3D Animation)
Website
http://gunungbatu.co.id/
Pertemuan kemarin baru merupakan awal. Gue berharap itu merupakan awal yang baik. Langkah selanjutnya adalah mencari investor untuk mendanai proyek Kancil Saga The Animation. Tentu saja membuat sebuah film layar lebar animasi 3D mungkin menjadi cita-cita yang terlalu tinggi (kecuali yang danain Pixar, hehehe). Jadi yang paling mungkin bisa dilakukan adalah membuat serial Kiky Si Kancil.
Kenapa eh kenapa kudu the series? Karena eh karena menurut hukum jual-beli pasar di Indonesia dan pertimbangan para investor, sebuah film seri akan jauh lebih menguntungkan daripada film layar lebar. Resiko bisa diturunkan, manisnya hidup kita yang tentukan. Loh? Kok malah jadi iklan? Anyway, looking forward for Kancil Saga: Kiky Si Kancil The Series. Wish me luck okay? Semoga bisa dapat investor yang baik. Aamiin.
Tag :
Diary,
Kancil Saga vs Penerbit!
By : Imedia9.net
Oke, judul postingannya emang rada serem. Tapi sebenernya ga seserem itu, menyenangkan malah. Buat yang belum tahu, beberapa hari yang lalu pihak KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) telah menghubungin saya berkaitan dengan naskah Kancil Saga yang telah saya kirim beberapa bulan yang lalu. Setelah melakukan koordinasi awal, saya pun pergi ke Jakarta ditemani kakak + kakak ipar saya. Kejam banget kan? Demi misi sang kancil, saya sampai harus memaksa kedua kakak saya itu untuk cuti dari kantornya. Bukannya apa-apa sih, masalahnya, saya kalau ke Jakarta sendirian pasti nyasar. Jadi mendingan minta di antar. Pertama, pasti nyampe (karena kakak ipar saya dulunya emang orang Jakarta). Dan kedua, gratis, hehehe. Dan itu adalah faktor utama.
Kami bertiga berangkat dari Bandung tepat pukul 7 pagi, dan tiba di Jakarta sekitar jam 10. Gedung Kompas Gramedia yang terletak di jalan Palmerah Barat ternyata gede juga ya? Dan gedung itu tenyata berisi lebih dari satu lini penerbit. Dan KPG yang saya incer ada di lantai 3,. Saya pun di sambut oleh bu Ratna sang editor dan kami pun langsung terlibat perdebatan sengit, hehehe.
Bu Ratna: "Kami tertarik dengan Kiky si kancil. Namun ada satu hal yang mengganjal yaitu bekas luka berbentuk petir. Karena itu mengingatkan pada Harry Potter. Bisa dihilangkan tidak?"
Rickman: *sambil cengengesan* "Oh, bisa banget bu. Lagipula tugas dari bekas luka berbentuk petir itu kan sudah selesai. Saya sengaja membuat bekas luka itu, semata-mata sebagai siasat supaya saya bisa dipanggil penerbit. Dan hasilnya, siasat saya berhasil kan?"
Bu Ratna bengong beberapa saat lalu kami semua tertawa. Ah, rupanya itulah misi dari bekas luka ala Harry Potter sebenarnya.
Saya & Bu Ratna Di Ruang Tamu Editor KPG
Dalam pembahasan tersebut, bu ratna sempat juga memberikan kepada saya beberapa buah contoh buku anak-anak yang akan diterbitkan oleh KPR. Jadi kira-kira, kancil saga ntar kalau terbit bentuknya juga bakalan kayak gitu (Aamiin). Diskusi sempat diwarnai promosi terselubung oleh kakak ipar saya yang bekerja di Microsoft. Maklum, Windows 8 kan lagi rilis tuh, jadi aja si teteh malah ga tahan untuk segera berjualan, hehehe.
Bu Ratna: "Gaya bercerita mas Rickman sudah baik. Hanya saja cerita si kancil ini masih ada yang kurang. Yaitu saya tidak menemukan benang merah antara satu cerita dan cerita yang lain."
Bu Ratna: "Gaya bercerita mas Rickman sudah baik. Hanya saja cerita si kancil ini masih ada yang kurang. Yaitu saya tidak menemukan benang merah antara satu cerita dan cerita yang lain."
Rickman: "Loh? Saya kan memang ingin membuat si kancil dalam buku berseri. Ya, buku-buku cemen buat anak-anaklah..."
Bu Ratna: "Gimana kalau si Kancil dibikin trilogi dan digarap dengan lebih serius?"
Rickman: "Hah?"
Sumpah gue kaget setengah mati. Ga nyangka kalau tim Editor malah berharap cerita Kiky si kancil ini dibuat ke arah yang lebih 'serius'. Dalam artiannya, cerita per bukunya lebih panjang, lebih seru dan tetap menggusung kepahlawanan si kancil yang selama ini dicap buruk oleh sebagian orang tua. Dan yang paling menohok adalah mereka meminta saya untuk membuatnya dalam bentuk TRILOGI!!! Gile kan? Ini request dari penerbit loh! Bukan gue sendiri yang berniat/berhasrat/berambisi untuk membuat sebuah trilogi. Jadi request ini bener-bener SUPER SEKALII!! Alhamdulillah ya?
Di satu sisi, ini adalah sebuah pintu yang sangat terbuka lebar bagi gue untuk menjad seorang penulis yang ganteng, lucu, imut dan menggemaskan, hehehe. Di sisi lain, ini merupakan pekerjaan yang sangat berat karena itu berarti saya harus membuat ulang seluruh cerita dengan tetap mengandalkan karakter Kiky si kancil yang sepertinya telah mencuri hati para editor, hehehe. Tapi bedanya, kali ini saya ga bekerja sendirian. Tim editor dan tim ilustrator KPG siap membantu langkah saya dalam mencapai cita-cita. Untuk menjadi seorang penulis ganteng, lucu, imut dan menggemaskan (did I had mention this before?)
Anyway, project Kancil Saga (Parodi Harry Potter) dengan ini resmi saya nyatakan DI TUTUP!
Sebagai gantinya, project baru Kancil Saga (Laskar Mustafa) DI MULAI!
NB:
Terima kasih banyak buat bu Ratna yang telah banyak memberi saran, masukan, dan membimbing saya untuk kembali ke jalan yang benar, hehehe
Kancil Saga - The New Adventures Is Just Begin...
Tag :
Diary,
Animasi Kiky Si Kancil 3D? Wani Piro?
By : Imedia9.net
Beberapa minggu yang lalu, kantor gue kedatangan Harry Riyadi beserta tim. Mereka bermaksud untuk mempresentasikan kemampuan mereka sekaligus mencari peluang kerja sama di tahun-tahun mendatang. Buat yang belum tahu, mas Harry Riyadi ini adalah pendiri Komunitas 3D Animasi Indonesia. Dan udah banyak banget malang melintang di dunia persilatan 3D. Pada kesempatan itu beliau mempresentasikan hasil karyanya dan timnya. Terus terang, gue terkejut. Sampai-sampai pengin ngompol sambil bilang WOW! Tapi berhubung di ruang rapat ga boleh ngompol, jadi aja gue tahan. Lagian kalau gue ke kamar mandi dulu kan bisa ketinggalan materi presentasinya. Mana kadang-kadang kamar mandinya suka penuh lagi. Jadi mesti ngantri dulu. Waktu itu pernah loh, pas gue lagi kebelet-kebeletnya... INI KENAPA MALAH JADI NGEBAHAS NGOMPOOL???
Ehm. Oke, mari kita kembali ke jalan yang benar. Intinya, setelah rapat itu selesai, saya colek mas Harry dan teman-temannya untuk membahas soal si kancil. Jadi gantian. Gue yang presentasi, dan materinya adalah all about Kiky si kancil. Mas Harry langsung ngangguk setuju begitu mendengar saya ingin membuatkan film animasi Kiky si kancil. Masalahnya cuma satu: Wani Piro?
Yup! Bikin film animasi 3D tuh nggak murah. Karena melibatkan banyak orang, skill, dan waktu yang sangat lama. Sekedar info: rate rata-rata untuk membuat film animasi 3D itu Rp. 500.000 per detik. Bayangin! PER DETIK MEN!! Sekilas kelihatan mahal, tapi sebenernya untuk bikinnya emang susah! Ga heran kalau film Finding Nemo aja dibikin dengan budget 40 juta USD$. Dan itu duit semua! Coba aja lo bayangin, itu kalau duit segitu disebar di lantai? Wedew, bisa koprol dan ngompol sepuasnya tuh!
Sekedar pembuktian bahwa membuat film 3D itu susah, gue sempat meminta tolong salah satu mahasiswa gue yang bisa blender untuk membuatkan model si kancil. Gue bilang gini: "Bikinin model 3D si kancil, atau lo gue kasih E!!" Wkwkwkwkw, dosen edaaan! Boong deng, gue nggak sekejam itu. Pokoknya thanks banget to Shoib Bintoro yang telah dengan sukarela membuatkan model 3D si kancil. Sekedar pembuktian jika membuat membuat animasi 3D tuh ga gampang. Dan makanya perlu pemodal yang kuat, dukungan penuh serta komitmen dari media televisi maupun media elektronik lainnya.
Gambar di atas ini baru merupakan bagian pertama dari keseluruhan proses pembuatan animasi 3D. Yaitu: MODELING. Jadi gambar Kiky si kancil, ditiru-tiru, dibentuk-bentuk, dan dipas-pasin. Ini masih belum selesai memang, karena habis itu masih ada pemberian tektur dan finishing. Kalao udah di tekstur nanti gue edit lagi postingan ini. Nah, apa pun itu, intinya yang dilakukan oleh mahasiswa gue ini baru Modeling. Baru bikin bentuk. Masih ada lanjutannya lagi untuk membuat sebuah animasi yang komplit. Ada RIGGING, ANIMATING, RENDERING, DAN PARARUSING. Wkwkwkwkw.
Ruwet juga ya mau bikin animasi 3D?
Ibarat kata Bondan Prakoso, "Ga'bisa bikin animasiiiii, ya ya ya ya ya ya ya, dudam dudam dudidubiduam, semua ini gara-gara money! Apa pun yang terjadi, duit selalu perlu untukmuuuu.... Janganlah kau bersedih, coz animating is somehow not okay!"
Nasib. Nasib. Ya sudahlah! Biarpun Kiky si kancil tidak pernah bisa tampil dalam bentuk animasi 3D, setidaknya saya masih sedikit terhibur dengan penampilan Sang Kancil yang ini:
Baca lebih jauh soal kondisi animasi 3D Indonesia di sini: Nasib Animasi 3D Indonesia
Ehm. Oke, mari kita kembali ke jalan yang benar. Intinya, setelah rapat itu selesai, saya colek mas Harry dan teman-temannya untuk membahas soal si kancil. Jadi gantian. Gue yang presentasi, dan materinya adalah all about Kiky si kancil. Mas Harry langsung ngangguk setuju begitu mendengar saya ingin membuatkan film animasi Kiky si kancil. Masalahnya cuma satu: Wani Piro?
Yup! Bikin film animasi 3D tuh nggak murah. Karena melibatkan banyak orang, skill, dan waktu yang sangat lama. Sekedar info: rate rata-rata untuk membuat film animasi 3D itu Rp. 500.000 per detik. Bayangin! PER DETIK MEN!! Sekilas kelihatan mahal, tapi sebenernya untuk bikinnya emang susah! Ga heran kalau film Finding Nemo aja dibikin dengan budget 40 juta USD$. Dan itu duit semua! Coba aja lo bayangin, itu kalau duit segitu disebar di lantai? Wedew, bisa koprol dan ngompol sepuasnya tuh!
Sekedar pembuktian bahwa membuat film 3D itu susah, gue sempat meminta tolong salah satu mahasiswa gue yang bisa blender untuk membuatkan model si kancil. Gue bilang gini: "Bikinin model 3D si kancil, atau lo gue kasih E!!" Wkwkwkwkw, dosen edaaan! Boong deng, gue nggak sekejam itu. Pokoknya thanks banget to Shoib Bintoro yang telah dengan sukarela membuatkan model 3D si kancil. Sekedar pembuktian jika membuat membuat animasi 3D tuh ga gampang. Dan makanya perlu pemodal yang kuat, dukungan penuh serta komitmen dari media televisi maupun media elektronik lainnya.
Gambar di atas ini baru merupakan bagian pertama dari keseluruhan proses pembuatan animasi 3D. Yaitu: MODELING. Jadi gambar Kiky si kancil, ditiru-tiru, dibentuk-bentuk, dan dipas-pasin. Ini masih belum selesai memang, karena habis itu masih ada pemberian tektur dan finishing. Kalao udah di tekstur nanti gue edit lagi postingan ini. Nah, apa pun itu, intinya yang dilakukan oleh mahasiswa gue ini baru Modeling. Baru bikin bentuk. Masih ada lanjutannya lagi untuk membuat sebuah animasi yang komplit. Ada RIGGING, ANIMATING, RENDERING, DAN PARARUSING. Wkwkwkwkw.
Ruwet juga ya mau bikin animasi 3D?
Ibarat kata Bondan Prakoso, "Ga'bisa bikin animasiiiii, ya ya ya ya ya ya ya, dudam dudam dudidubiduam, semua ini gara-gara money! Apa pun yang terjadi, duit selalu perlu untukmuuuu.... Janganlah kau bersedih, coz animating is somehow not okay!"
Nasib. Nasib. Ya sudahlah! Biarpun Kiky si kancil tidak pernah bisa tampil dalam bentuk animasi 3D, setidaknya saya masih sedikit terhibur dengan penampilan Sang Kancil yang ini:
Sang Kancil yang muncul pada serial Pada Zaman Dahulu. Sang Kancil 3D yang lahir dari tangan-tangan animator Les' Copaque, sebuah studio animasi 3D dari negeri tetangga...
Tag :
Diary,
Behind The Scene
By : Imedia9.netTahap 1: Gambar Abal-Abal
Setelah ceritanya selesai, gue coba-coba cari bagian mana yang menarik dalam cerita itu dan membuatkan gambar abal-abal. Fungsinya untuk membantu mbak Okky dalam membayangkan, gambar kayak apa sih yang pengin gue bikin. Kayak gini:
Tahap 2: Sketsa
Setelah gambar abal-abal jadi, mbak Okky mencoba membuat sketsa awal dari gambar tersebut. Beberapa ilustrator menyebut sketsa sebagai gambar yang memiliki "semangat".
Tahap 3: Lineart
Setelah sketsa selesai, bagian paling penting selanjutnya adalah membuat Lineart. Yaitu merapikan apa yang sudah dibuat pada sketsa. Jika bagian ini sudah selesai, mbak Okky akan langsung mengirimkannya ke gue buat diwarnain.
Tahap 4: Re-Coloring Lineart
Tahap selanjutnya adalah Re-Coloring Lineart. Yaitu memberi warna yang berbeda pada setiap garis. Perlu diperhatikan, mbak Okky menggambar semuanya dengan menggunakan tangan pada tablet. Sehingga warna tintanya hanya satu. Kalau nggak item, ya coklat. Dan ini hasilnya setelah Lineart di warnai ulang.
Tahap 5: Coloring
Tahap selanjutnya adalah mewarnai. Dan merupakan salah satu tahap yang paling banyak menyita waktu. Selain di rumah, gue juga kadang mewarnai gambar-gambar ini kalao lagi agak senggang di kantor.
Tahap 6: Finishing
Dan tahap terakhir adalah tahap finishing yang terdiri dari memberikan efek cahaya dan bayangan. Untuk tahap ini, gue mulai coba mempraktekkan efek embos dengan tool blur dan dodge supaya bayangannya rada keren. Kek gambar-gambar 3D gitu, hehehe
Gambar ilustasi Kiky si kancil pun berhasil dibuat. Horeeeee!
Tag :
Diary,
Cerita Kiky Si Kancil Buku 5 Selesai!
By : Imedia9.netGue yakin kalian semua pada penasaran! Apa sih hubungannya Mongku & Barnabas dalam cerita ini dengan Mongku & Barnabas yang blog-nya bisa kalian lihat di sini. (*kagak penasaraaaan!*) Dan jawabannya adalah: Paralel Relationship. (*bodo amaaat!*) Mereka berdua memiliki nama, sifat, dan bantuk yang mirip. Tapi mereka berasal dari dunia yang berbeda sehingga bisa dibilang universe-nya juga berbeda. (*emangnya gue pikiriin!*)
Woi, kalo emang ga niat baca ga usah dilanjutin dong baca artikelnya! Koprol aja sana yang jauh sambil bilang wow! Ehm, oke gue terusin lagi. Rasanya dulu gue pernah deh bahas soal niat gue mau bikin Dremina sebagai seting dunia fiksi buatan gua yang bakal di-sharing universe-in sama karakter2 gua yang lain. Akan tetapi, setelah menimbang, memperhatikan, dan memutuskan (halah!), gue berpikir sebaiknya konsep yang gue pake bukan lagi sharing universe, akan tetapi paralel universe. Sehingga yang menjadi fokus utama adalah karakternya, dan bukan pada dunianya.
Gue bakal ngebahas soal konsep paralel universe ini dalam postingan yang lain. Ini penting, karena Kancil Saga akan menjadi titik awal puncak karir gue di dunia kepenulisan (gubrak!). Ya nggak apa-apa atuh, pede-pede dikit kan wajar. Yo wiis! Sekarang tinggal kirim draftnya ke mbak Okky, dan biarkan tangan-tangannya bekerja...
Tag :
Diary,




















