Popular Post

Archive for May 2013

Kancil Saga Update

By : Imedia9.net
Oke. Saya tahu mungkin ini kedengerannya akan sangat mengecewakan kepada para penggemar saya (ehm! hehehe), yang sudah dengan sangat setia menantikan akan seperti apa sih jadinya cerita si Kancil versi Saga ini. Dengan berat hati harus saya sampaikan jika anda semua harus bersabar lagi karena untuk ketiga kalinya, konsep naskah Kancil Saga diubah! Yeey! Ucapan terima kasih dilayangkan kepada R.D Villam, senior sekaligus mentor saya, yang telah memberikan pandangannya terhadap konsep naskah tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada satu kata-kata bijak: "Lebih baik terlambat dalam mematangkan rencana, daripada tergesa-gesa hanya untuk mengulanginya lagi."
Dalam postingan ini, sekaligus untuk memperingati hampir-setahunnya proyek Kancil Saga, maka saya akan coba membahas transformasi proyek ini sejak dirintis awal Juli tahun 2012 yang lalu. Mangga take a look!

1. Konsep Parody Harry Potter
Sejak pertama kali dirintis, proyek Kancil Saga dimaksudkan untuk menghapus image buruk yang sudah terlanjur melekat pada diri si Kancil. Rada sulit melakukannya karena cap Si Pencuri Ketimun itu sudah kadung melekat pada sosok si Kancil. Cara terbaik untuk mengeliminasi hal itu adalah dengan "menumpangkan" nama si Kancil pada sosok lain yang lebih terkenal. Yang kepikiran waktu itu adalah Harry Potter. Kenapa herpot? Karena gue emang suka sama herpot. Kenapa? Masalah buat lo? Kiky si Kancil versi awal gue gambar sendiri sampe berdarah-darah. Ini dia hasilnya:
Ya, gue tahu. Gambarnya memang jelek. Udah mah nyontek gambar punya orang, jelek lagi! Emang dasar nggak ada bakat gambar gua! Tapi yang paling penting adalah, bekas luka di keningnya/ Aha! Bekas luka itulah yang pengin gue pake untuk mengubah image si Kancil biar ga lagi identik dengan si pencuri ketimun melainkan sebagai Si Kancil Sang Pembantai... eh eta mah si Batosai atuh. Maksudnya, si Kancil Yang Bertahan Hidup. 
Menyadari kalau gambar gue jelek, gue pun coba cari ilustrator. Ucapan terima kasih disampaikan untuk bang Yohan Power - salah satu ilustrator Vandaria Saga yang telah memperkenalkan gue dengan Okky Alpucat Ariani. Dialah yang menggambar ulang Kiky si kancil menjadi seperti ini (dalam versi asli dan versi yang udah gue warnain ulang):

Bekas luka yang fenomenal itu menuai protes, serta caci maki dari banyak pihak. Sebuah protes yang memang saya tunggu. Karena ada misi tersembunyi di balik bekas luka legendaris itu. Akhirnya dari 15 naskah yang saya kirim ke berbagai penerbit, hanya 2 penerbita saja yang tertarik dengan konsep kancil yang baru ini. Yaitu penerbit BA dan KPG. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk berpartner dengan tim KPG dan mengubah wujud Kiky Si Kancil (sementara) menjadi seperti ini:
Bekas luka karena cakaran harimau yang memang menjadi tujuan awal saya sejak naskah ini pertama kali dibuat. Pada bulan November 2012, naskah Kiky Si Kancil pun memulai babak baru.

2. Konsep Trilogi & Dunia Sihir

Alih-alih menggunakan konsep 7 serial buku, editor saya yang baik, mbak Ratna mengusulkan untuk membuat trilogi saja. Biar terlihat keren, mantap dan luar biasa mengguncang dunia persilatan. Untuk melakukan itu, langkah pertama yang harus saya lakukan adalah membuat dunia. Benar sekali sodara-sodara. Mengekor senior saya yang lain, mas Ami Radiya yang sudah melaju kencang dengan Vandaria Saga-nya, saya mencoba membuat konsep shared-universe yang sama. Namun karena keterbatasan personil (just me, my keyboard and mouse) - gue pun terpaksa menggunakan konsep shared-paralel-universe. Sebuah konsep penggunaan dunia secara paralel dengan nama tempat yang sama, tapi dengan sejarah dan detil yang berbeda. Dunia fantasy gue itu gue namakan Dremina. Ini adalah bentuk awalnya:

Membuat sebuah trilogi high-fantasy bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi jika harus melakukan perawatan yang begitu mendetil pada seluruh wilayah. Lagian gua juga bukan seorang novelis yang jago-jago banget. Oleh karena itu, gue mencoba menyederhanakan pembahasan dan seting novel dengan hanya berkutat pada satu wilayah tertentu saja, yaitu negeri Dongeon. Ini adalah peta kondisi awalnya:
Sampai tahap ini, sebenarnya semua sudah berjalan dengan lancar. Hanya saja poin minus justru berada pada plot dan alur penceritaannya sendiri. Gue bener-bener kelabakan dalam menulis naskah Kancil Saga itu dan sempat frustasi karena nggak selesai-selesai. Dan ketika akhirnya beres, gue malah jadi merasa ada sesuatu yang salah pada naskah itu, tapi gue nggak tahu apa. Dan saat itulah saya meminta bantuan mas Villam, yang juga di acc langsung oleh mbak Ratna selakuk editor.

3. Konsep Laskar Mustafa
    
Dunia Dremina menjadi semakin matang seiring dengan berjalannya waktu. Dengan menggunakan software Gimp versi 2, gue dengan bersusah payah dan berdarah-darah akhirnya berhasil membuat ulang situasi dan kondisi dunia Dremina. Satu hal yang tentunya bakalan mempermudah gue juga dalam menulis cerita nantinya. Here you go!
Gue juga berhasil menggambar ulang negeri utama tempat terjadinya kisah Kancil Saga ini yaitu Dongeon. Sebuah negeri yang berasal dari plesetan kata Dongeng.
Dalam konsep Kancil Saga yang ketiga, penceritaan akan menitikberatkan pada peran Laskar Mustafa sebagai salah satu laskar binatang di Dongeon. Dalam konsep sebelumnya, gue bener-bener keteteran waktu harus membuat deskripsi soal Goa Raungan Suci yang menjadi markas Laskar Mustafa. Tapi sekarang lain ceritanya (mudah-mudahan sih) karena gue pun telah berhasil membuat peta Hutan Buas dan Goa Raungan Suci. 


Sebenernya masih banyak hal lain yang pengin gue bahas di sini. Yaitu masalah Laskar Mustafa sendiri, hukum yang berlaku di antara tiga kerajaan binatang, sampai sistem sihir di Dongeon 9yang juga pernah ditanyain sama salah satu temen kantor gue). Tapi soal itu nanti gue bahas di postingan lain aja kali ya, hehehe. Bye! 

Tambahan: Oh ya, gue lupa. Kancil Saga sekarang udah punya soundtrack loh! Buat yang belum denger, ayo buruan di klik: https://soundcloud.com/roedavan/kancil-saga-kiky-si-kancil
Tag : ,

- Copyright © Kiky Si Kancil - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -