Popular Post

Posted by : Imedia9.net Sunday, November 3, 2013

Konsep Re-Telling Fairy Tales atau menceritakan kembali sebuah dongeng/kisah dalam bentuk atau kemasan yang lain sebenarnya bukanlah hal yang baru. Ada banyak alasan kenapa proses penceritaan ulang itu dilakukan. Misalnya karena dongeng yang diceritakan pengarang aslinya itu kelewat sadis, atau serem? (Cek cerita asli si kerudung merah yang neneknya dimakan serigala) Atau karena cerita aslinya malah bikin sedih nggak ketulungan dan bikin anak-anak yang baca malah nangis galau? (Cek cerita asli putri duyung yang akhirnya mati jadi buih dilautan) Atau karena ada masukan dari pihak-pihak tertentu yang ingin membawa dongeng tersebut ke sebuah media lain yang lebih wah, mewah, meriah dan bikin para investor bilang: wow!
Nggak perduli dengan reaksi buruk, caci maki, atau kritik pedas para kritikus, faktanya konsep ini terus dilakukan pelaku industri kreatif. Selain menggiurkan secara finansial, konsep ini juga secara tidak langsung telah memancing rasa ingin tahu sebagian pihak untuk mengetahui kisah aslinya, sebelum di re-tell. So, everybody is happy, I think. Well, except for the criticus.
Anyway, kalau gue pikir-pikir Kancil Saga sendiri sebenarnya merupakan sebuah produk Re-Telling Fairy Tales. Bener nggak? Bukankah selama ini orang-orang kalau denger nama Kancil pasti yang kepikiran adalah Pencuri Ketimun? Kenapa mereka nggak pernah berpikir sesuatu yang lain? Kenapa nggak Pencuri Tomat kek, Pencuri Jagung kek, atau Pencuri Stroberi kek apa gitu. Nggak. Setiap kali orang-orang denger kancil, otak mereka akan otomatis menyampaikan dua kata: Pencuri Ketimun. Thats it. Thats the end of story.
Itulah alasan kenapa gue bikin project ini. Kenapa gue (yang udah ditolak banyak penerbit) tetep ngotot pengin bikin Kancil Saga. Karena gue yakin, kisah si Kancil ini layak banget buat di re-tell. Layak banget buat dapat nafas baru yang lebih segar, dan dikemas dengan lebih wah, mewah dan meriah sampai bikin para pembaca bilang: wow! (bisa wow keren banget, atau wow ancur banget. Nggak apa-apalah, yang penting ada wow-nya)
Beberapa bulan terakhir ini ada banyak banget film-film amrik sono yang ngere-tell cerita-cerita anak-anak jaman dulu. Sebagian dikemas dengan keren, sebagian lagi, ya so-so aja. Di bawah ini, gue copas beberapa poster film yang gue suka. Bukan cuma suka ceritanya, sutradaranya, dan sebagainya sih, tapi gua juga suka konsep soal sihir, dialog-dialognya yang lucu (meski bagi sebagian orang katanya garing), dan terutama adegan perangnya yang fantasy banget.

Yang pertama adalah Alice in Wonderland. Soal ini mah udah jelas banget kenapa gue suka. Tim Burton gitu loh! My fave banget.

Selanjutnya adalah Snow White and Huntsman. Cerita dan adegan tempurnya bagus, at least kalau dibandingin sama Mirror-Mirror - yang sama-sama re-tell dari cerita Snow White.

Next adalah Hansel & Gretel: Witch Hunter. Kecuali adegan darahnya yang brutal, gue suka semuanya. Adegan tempurnya 'sederhana' dan keren. Jarang-jarang kan ngeliat penyihir baku hantam?

Yang terakhir adalah Jack The Giant Slayer. Kalau untuk yang ini, gue two thumb up sama CGI-nya. Ini keren banget. Tekstur para raksasa begitu detil dan menjijikan. Adegan fave-gue adalah pada saat salah satu raksasa ngupil, wkwkwkw. Unforgetable scene!

Selain mereka, tentunya masih ada banyak lagi produk-produk Re-Telling Fairy Tales yang lain. Para suhu fairy tales, mulai dari Grimm dan Hans Andersen pasti ngakak di alam sana ngeliat bagaimana dongeng buatan mereka dibolak-balik nggak jelas gitu. Gue sendiri sih berharap, suatu hari nanti Kancil Saga akan berada di posisi mereka. Menjadi salah satu produk Re-Telling Fairy Tales yang super duper terkenal di seluruh penjuru Indonesia dan bisa menghibur para pembaca cilik, err... nggak cilik-cilik juga sih, soale target Kancil itu young adult reader (13 - 21 tahun). Dan buat yang nggak merasa terhibur ya nggak apa-apa. Ke laut aja lo sana, hehehe.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kiky Si Kancil - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -